Hari-hari ini media massa baik televisi maupun koran sibuk memberitakan mengenai bahaya Facebook. Dikatakan bahwa Facebook memberi dampak negatif pada ABG-ABG perempuan. Hal ini berawal dari kasus kaburnya seorang anak ABG perempuan menemui teman laki-laki yang dikenalnya lewat situs jejaring sosial Facebook. Berita tersebut susul-menyusul dengan berita-berita lainnya yang memaparkan dampak negatif situs jejaring sosial Facebook. Bahkan salah satu stasiun televisi nasional dengan gencarnya mengupas kasus ini, namun yang disayangkan mereka seakan-akan berusaha untuk mengarahkan opini publik bahwa Facebook berbahaya sehingga tidak lagi fokus kepada kasus yang terjadi. Setiap kali menonton pemberitaan oleh stasiun televisi ini mengenai kasus tersebut membuat saya tertawa sendiri karena begitu inginnya presenter menggiring opini publik kepada betapa berbahayanya Facebook.
"Jadi ada apa dengan Facebook???", itulah pertanyaan besar yang terbersit dalam pikiran saya.
Facebook sebagai sebuah media jejaring sosial yang membantu kita untuk dapat membangun networking, mempertemukan kembali dengan teman-teman lama maupun baru, media untuk berkomunikasi dan sharing informasi, bahkan saat ini marak dijadikan media untuk menggalang massa, selain memiliki dampak positif tentu saja tidak terlepas dari dampak negatif.
Kalau kita mau jujur, semua hal di dunia ini memiliki kedua sisi ini ibarat dua sisi mata uang. Lalu kenapa pula kita dengan gencarnya menyalahkan jejaring sosial Facebook yang sifatnya netral tergantung kepada penggunanya untuk digunakan sebagai apa dan untuk apa?
Terlihat sekali ada upaya untuk menggiring opini publik kepada satu sisi (sisi negatif Facebook). Lalu untuk kepentingan apa dan siapa? Apakah untuk menaikkan popularitas sebuah pemberitaan yang akhirnya sangat terkait kepada rating sebuah stasiun televisi dan dana yang mengalir atau ada maksud-maksud lainnya seperti upaya untuk mengalihkan perhatian publik kepada kasus-kasus nasional yang akhir-akhir ini menjadi perhatian masyarakat Indonesia, sebut saja kasus skandal Bank Century.
Sebuah pemberitaan seharusnya bersifat netral (tidak berpihak) atau tidak mengarahkan kepada suatu penilaian tertentu terhadap suatu topik permasalahan. Demikian juga dengan kasus-kasus diatas. Apakah pantas kita menyalahkan dan mendiskreditkan situs jejaring sosial Facebook?? Kenapa masing-masing individu yang terkait dengan kasus tersebut tidak melakukan introspeksi. Setiap perbuatan tentu ada sebabnya. Apakah seorang anak gadis yang notabene masih ABG akan kabur begitu saja tanpa sebab? Kabur artinya dilakukan dengan sadar, berbeda halnya dengan penculikan.
Memang sangat mudah untuk menyalahkan sesuatu di luar diri kita atas apa yang terjadi. Orang tua seringkali merasa benar, telah mendidik anak dengan baik, memberikan apa pun kebutuhan anak dan ketika terjadi sesuatu pada anak-anaknya melimpahkan kesalahan kepada pihak lain.
Perlu diperhatikan bahwa apa yang dirasakan anak belum tentu sama dengan apa yang dimaksudkan oleh orang tua. Orang tua terkadang telah memberikan segalanya kepada anak, namun anak terkadang merasa tidak mendapatkan apa yang diinginkannya dari orang tua. Orang tua sering merasa kalau anak-anaknya adalah anak yang baik, pendiam dan penurut namun tidak sedikit yang berakhir dengan melakukan tindakan kriminal.
Karena itu janganlah kita terburu-buru menyalahkan pihak lain atas kejadian tertentu. Lakukan komunikasi dengan anak, jangan-jangan kitalah penyebabnya!!!
Jangan-jangan demikian pulalah dengan Facebook yang dijadikan kambing hitam atas ketidakmampuan kita.
http://gagabux.com/register.php/ovicks.html
BalasHapustukar referral yu
sepakat....
BalasHapus