Stres tampaknya sudah menjadi makanan sehari-hari. Jangankan pekerjaan dan lingkungan yang lebih luas lagi, rumah saja bisa menjadi sumber stres. Tiap anggota keluarga memiliki sumber stresnya tersendiri. Lihat saja para anak yang marah, kesal dan sebal sama orang tuanya dan saudara-saudaranya. Para orang tua juga, dibuat kesal oleh anak-anaknya. Belum lagi para suami atau istri yang merasa tidak dihargai dan disayang lagi oleh pasangannya. Masalah keluarga, ekonomi, tetangga, pekerjaan dan masih banyak lagi yang dapat menjadi sumber stres bagi kita. Pendek kata kehidupan ini akan selalu menjadi sumber stres bagi kita.Wah kalau begitu sengsara sekali ya kita hidup di dunia ini....
Yang tahu jawabannya tentu kita sendiri.
Coba saja sesekali anda berkunjung ke rumah sakit jiwa, banyak sekali saudara-saudara kita yang dirawat di sana dikarenakan mengalami stres berlebihan sehingga mengakibatkan kondisi kejiwaannya perlu dirawat mulai dari gangguan psikotik (ya kalau orang awam akan menyebutnya "gila" sampai yang ringan-ringan karena diputusin pacar dan perlu berkonsultasi dengan Psikolog atau Psikiater. Tapi jangan salah loh.. diputusin pacar juga bisa menjadi masalah besar bagi orang-orang tertentu dan dapat berakibat signifikan pada kondisi psikologisnya.
Sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa hidup kita di dunia ini akan selalu dipenuhi dengan permasalahan. Hanya saja kenapa ada orang yang dapat menghadapinya dengan baik bahkan mencapai prestasi yang tinggi namun tidak sedikit pula yang gagal dan berakhir di Rumah Sakit Jiwa atau berkeliaran di jalan-jalan sambil berbicara sendiri dan tidak pernah mandi.
Jawabannya mungkin akan panjang dan banyak sekali, namun di dalam tulisan ini saya hanya akan membahasnya melalui konteks stres.
Apakah stres itu?
"Researchers define stress as a physical, mental, or emotional response to events that causes bodily or mental tension. Simply put, stress is any outside force or event that has an effect on our body or mind." (www.timethoughts.com)
Stres adalah respon fisik, mental atau emosional terhadap kejadian-kejadian yang menyebabkan ketegangan pada tubuh atau mental. Singkatnya, stres adalah setiap kekuatan atau kejadian eksternal yang mempengaruhi tubuh atau pikiran.
Lalu apa akibatnya dari kondisi stres tersebut?
Di dalam wikipedia, disebutkan bahwa simptom-simptom umum dari stres dapat berupa ketegangan otot-otot tubuh, iritasi, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, dan berbagai respon fisik yang bervariasi seperti sakit kepala dan denyut jantung yang meningkat.
Sedangkan secara emosional dapat berupa kecemasan, rasa marah, depresi, frustrasi dan dalam taraf yang berat dapat mengakibatkan gangguan emosional seperti yang sering anda lihat di rumah sakit jiwa.
Bagaimana menghindarkan diri kita dari kondisi stres yang merusak ini?
Pada dasarnya stres bersifat positif, seperti ketika anda sedang dikejar anjing, apalagi anjing gila, tentu anda akan mampu berlari cepat bahkan melompati pagar yang kalau dalam kondisi normal mustahil untuk anda lompati. Atau karena sudah dikejar deadline, anda mampu menghasilkan maha karya yang luar biasa. Mengapa demikian? Hal ini disebut dengan eustress atau stres yang positif. Stres dalam kadar yang wajar menjadi pendorong bagi kita dan memotivasi untuk mencapai hasil yang diinginkan. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat gambar di bawah ini sebagai ilustrasi.

Namun ketika stres yang dialami sudah berlebihan dan bahkan permasalahan-permasalahan yang dialami tidak pernah terselesaikan sehingga menumpuk dapat berakibat kita mengalami distress dan berakibat buruk pada kesehatan mental dan fisik.
Salah satu cara untuk mencegah distress adalah dengan berpikir positif dan melihat sumber stres kita secara objektif. Mulailah untuk memandang semua permasalahan dan kejadian yang kita alami sebagai sesuatu yang menarik, menantang dan bahan pembelajaran buat kita. Lihatlah permasalahan dengan apa adanya. Jangan sampai masalah kecil menjadi besar dan begitu sebaliknya sehingga tidak proporsional dan respon yang kita berikan menjadi tidak efektif.
anda memang benar pak...sumber stress harus dilihat secara objektive...jangan sampai stress itu menggangu, mengurangi bahkan menghentikan produktivitas kita...
BalasHapusSetuju :-) mas aswien.
BalasHapusnamun terkadang kita tidak sadar kalau kendali kita sudah dikuasai oleh emosi sehingga tidak mampu lagi berpikir secara jernih, karena itu buka pikiran dan buka hati atas semua permasalahan yang kita hadapi.
good ..ngga nyangka ya...sekretaris OSIS lA tansa th 95/96, sekarang jadi psikolog yang bijaksana...andai tulisan ini saya baca tahun 96, mungkin saya bisa denger pidato Bapak KH Drs. Ahmad Rifai Arief tgl 14 Juni 1997
BalasHapus