Seks seringkali dianggap oleh banyak budaya Timur sebagai hal yang tabu. Banyak orang akan merasa jengah atau tidak nyaman ketika membicarakan tentang topik ini. Namun seks juga merupakan gairah hidup yang tidak dapat lepas dari kehidupan manusia. Bahkan seks dapat menjadi komoditas yang menjual, lihat saja film-film yang beredar, mau judulnya komedi, drama, aksi, thriller maupun horor tidak dapat lepas dari unsur seks. Para pembuat iklan pun rupanya tidak mau ketinggalan untuk menampilkan aspek ini. Baik itu ditunjukkan secara grafis maupun audio melalui dialog dan suara yang dapat diinterpretasikan sebagai ajakan atau aktifitas seksual.
Celakanya hal ini dapat menjerumuskan para generasi muda karena dapat memberikan informasi yang kurang tepat, setengah-setengah dan menimbulkan rasa penasaran. Bukannya memberikan pendidikan seks secara tepat melainkan membangkitkan keingintahuan dan perilaku-perilaku seksual yang sifatnya eksperimen atau coba-coba.
Lalu seberapa pentingkah pendidikan seks dan bagaimana metode yang tepat?
Remaja merupakan usia yang dipenuhi oleh rasa ingin tahu dan masanya bereksperimen. Karena itu tanpa diberikan pendidikan seks pun remaja akan mencari tahu mengenai topik ini baik itu melalui media tertulis, elektronik maupun bertukar informasi antar teman. Tanpa arahan dan kontrol yang tepat dapat menjerumuskan remaja pada informasi-informasi yang menyesatkan dan mengarah pada aktivitas seksual yang melanggar norma susila. Data menunjukkan dari remaja usia 12-18 tahun, 16% mendapat informasi seputar seks dari teman, 35 % dari film porno, hanya 5% dari orang tua. Informasi yang tidak tepat akan mengarahkan remaja pada kegiatan tuna sosial yang merusak masa depannya. Penelitian dari synovate research, 2004 dari 450 remaja Surabaya, Jakarta, Bandung dan Medan menunujukkan 44 % mendapat pengalaman seksual usia 16-18 tahun, 16 % nya usia 13-15 tahun (www.halalsehat.com).
Dengan demikian pendidikan seks bagi remaja adalah hal yang penting, namun tidak cukup hanya dengan pendidikan seks karena pendidikan seks yang tepat pun dapat disalahgunakan dan akhirnya bukannya mengontrol perilaku seks remaja namun membuka pintu bagi aktivitas seksual remaja yang tidak pada tempatnya. Yang utama sebelum memberikan pendidikan seks membentuk pribadi remaja yang bertanggung jawab dan mampu mengarahkan perilakunya sesuai dengan norma tanpa harus dipantau terus menerus oleh orang dewasa. Hal ini perlu dilakukan karena sebagian besar waktu bagi seorang remaja dihabiskan bersama teman-temannya tidak dibawah kendali orang tua atau orang dewasa.
Selain pendidikan seks, pendidikan agama dan penanaman nilai-nilai moral serta norma-norma sosial haruslah dilakukan secara paralel karena informasi yang tepat sekalipun tanpa didasari oleh pemahaman agama dan moral dapat menjadikan senjata makan tuan atau disalahgunakan.
Berikut petikan artikel dari www.halalsehat.com mengenai penanaman informasi seputar seks yang disesuaikan dengan perkembangan jiwa dan fisik :
1. Usia 1-4 tahun
Ketika anak memasuki umur 1-2 tahun, dia sudah mampu mengenali penamaan benda sekitarnya termasuk organ tubuhnya. Pada saat ini dapat dikenalkan organ tubuhnya termasuk organ genetalianya sebagai sebuah keunikan tubuhnya. Memasuki usia 3-5 tahun, anak mempunyai kemampuan mengucapkan kata sederhana dan belajar menjadi pendengar yang baik. Pertanyaan ”mengapa” sering menjadi favoritnya. Dia juga mulai terpengaruh dengan apa yang dilihatnya baik secara langsung maupun lewat tayangan televisi. Pada usia ini anak memerlukan informasi lebih lengkap berkaitan dengan pengenalan jenis kelamin, training toilet, dan sebagainya.
2. Usia 5-7 tahun
Pada usia ini rasa keingintahuan tentang aspek seksual mulai muncul. Sering ada pertanyaan berkaitan dengan organ reproduksinya dan membandingkan dengan orang lain. Dia mulai belajar bersosialisasi sehingga memerlukan bimbingan untuk mengendalikan emosinya terutama eksplorasi terhadap anggota tubuhnya termasuk organ reproduksinya. Peran orang tua dan pendidik dengam mulai mengarahkan kegiatan yang lebih memperjelas identitas jenis kelaminnya seperti perempuan lebih menyukai kegiatan ibunya sedang anak laki-laki menyukai kegiatan ayahnya.
3. Usia 7-10 tahun (masa pra pubertas)
Usia ini merupakan masa mampu membedakan perihal baik dan buruk, mengenali hubungan sebab akibat. Masa yang tepat untuk pengenalan secara mendalam identitas diri terutama organ biologis terhadap lingkungannya. Mengajarkan penjagaan privasi diri, berani menolak terhadap hal yang membahayakannya dan melatih diri untuk menghormati orang lain seperti menanamkan budaya rasa malu, minta izin ketika memasuki kamar orang tua. Membiasakan berdiskusi sederhana tentang fenomena hidup, keunikan organ reproduksinya akan mematangkan jiwa dan mentalnya. Seperti diskusi tentang terjadinya kehamilan memerlukan pertemuan telur dan sperma yang semuanya merupakan kuasa dan kemahaluasan ilmu Alloh.
4. Usia 10-14 tahun (masa pubertas)
Ada perubahan signifikan pada usia ini. Terjadinya menarche, mimpi basah,dan munculnya rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Remaja ini harus sudah memahami batas kesopanan tentang aurot, akhlak pergaulan laki-laki dan perempuan, serta menjaga kemuliaan dan harga dirinya. Menciptakan lingkungan yang kondusif dan menghindarkan dari segala hal yang mampu membangkitkan luapan nafsu dan mampu untuk menguasainya. Seperti menghindarkan dari tayangna film porno, pergaulan bebas dan mengarahkan mereka pada kegiatan positif yang membentuk kematangan berfikir dan pembentukan konsep hidup yang benar.
5. Usia 14-16 Tahun
Masa ini merupakan masa paling kritis. Karena organ repruduksi mulai berfungsi sempurna. Kemampuan untuk bisa hamil menyebabkan remaja harus bersikap tegas dan bertanggung jawab terhadap penggunaan organ reproduksinuya. Orang tua dan pendidik tentunya harus menjamin bahwa secara kematangan berfikir anak mampu mengambil sikap yang benar, memahami konsekuensinya dan dipertanggung jawabkan dihadapan Alloh. Konsep hidup yang meletakkan Alloh sebagai pengatur hidupnya harus sudah menyatu dalam diri remaja.
6. Masa Pemuda
Masa usia pemuda adalah masa kematangan berfikir, memahami tujuan hidup dan hikmah dalam kehidupannya. Kontrol organ reproduksi terbaik dan satu-satunya yang diperintahkan Alloh adalah pernikahan. Dia akan mampu mengambil sikap yang tepat dalam menjaga organ reproduksinya. Ketika memutuskan untuk menikah akan mengupayakan tentang rencana masa depan dari pernikahannya. Ketika memutuskan belum mampu menikah maka dia akan berusaha menjaga kehormatan dan kemuliannya dengan menghindarkan dari segala hal yang mengantarkanya pada kemaksiatan dan kemudhorotan.
0 komentar:
Poskan Komentar