Minggu, 24 Juli 2011

Wahai Allah Tuhanku


Ya Allah.. Maha suci Engkau yang telah menciptakan kami dalam sebaik-baiknya penciptaan. Dengan kasih sayang-Mu yang tanpa batas, kami mengarungi samudera kehidupaan. Sungguh kami ini hamba-hamba-Mu yang lemah tak berdaya tanpa-Mu.

Begitu banyak kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepada kami, setiap tarikan napas dan detakan jantung ini tak lepas dari pengawasan-Mu. Namun apa yang telah kami lakukan? Kami banyak berbuat aniaya kepada diri kami, kami lalai akan tugas dan peran untuk apa kami Engkau ciptakan. Kasih sayang-Mu kami balas dengan ketidakpedulian, kenikmatan dari-Mu kami balas dengan kekufuran dan perilaku dholim.

Ya Allah sungguh kami ini hamba-hamba-Mu yang tak tahu diri dan kurang bersyukur. Seringkali kami sombong, menganggap keberhasilan dan kesuksesan yang kami peroleh karena kerja keras kami. Tak jarang pula nikmat yang Engkau anugerahkan kami salahgunakan, tak kami syukuri dan selalu saja merasa kurang.

Ya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, ampunilah dosa-dosa kami, kedua orang tua kami, orang-orang yang kami sayangi dan segenap muslimin dan muslimat. Seperti halnya sebuah syair yang digubah oleh Abu Nawas "Wahai Tuhanku, aku bukanlah orang yang pantas berada di surga-Mu, namun aku tidaklah pula akan mampu menanggung beratnya siksa neraka-Mu.. karena itu wahai Allah Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku taubat-Mu dan ampunilah hamba-Mu yang bergelimang dosa ini".

Senin, 15 Februari 2010

Murid Sekolah DIPECAT Gara-gara Facebook

Facebook sekali lagi dianggap biang keladi kesalahan seseorang. Gara-gara menghina gurunya di Facebook 4 (empat) orang siswa SMU dipecat jadi murid (kirain cuma pegawai aja yang bisa dipecat, hehehe...sungguh aneh ;)

Mari kita simak sebuah berita yang ditayangkan di detiknews.com berikut ini :

Minggu, 14/02/2010 18:01 WIB
Hina Guru di Facebook
4 Murid Dipecat karena Guru Tak Mau Memaafkan

Pekanbaru - Keputusan dikeluarkannya empat murid SMU Negeri 4 Tanjungpinang, Kepulauan Riau, sudah merupakan keputusan akhir dari majelis guru. Pertimbangan untuk mengeluarkan karena guru yang merasa dihina muridnya di facebook tidak bersedia memberikan maaf.

Hal itu disampaikan Wakil Kepala Sekolah SMU Negeri 4, Tanjungpinang Yose Rizal saat dikonfirmasi detikcom, Minggu (14/02/2010). Yose menyebut, sebenarnya pihak sekolah sudah berupa agar guru yang dihina di facebook itu memberikan maaf pada muridnya. Namun, guru tersebut tidak membuka pintu maaf atas ulah murid-muridnya.

"Akhirnya menjelis guru memberikan keputusan untuk dikeluarkan. sebelum mereka mendapatkan sekolah pengganti kita beri kesempatan tetap belajar. Dua murid itu kini sudah pindah sekolah, tapi dua lagi saya belum tahu pasti," kata Yose.

Yose menyebut, tindakan pemindahan ini hanya sebagai bentuk efek jera saja. Di mata para guru, anak-anak itu sudah sangat keterlaluan. Mereka menghina guru yang hinaan itu masalah yang sangat pribadi sekali.

"Dalam facebook mereka menulis sebaiknya guru itu dibuang kelaut aja, dimutilasi saja. Ini jelas tidak pantas. Tapi yang menyakitkan guru itu soal kepribadiannya. Kalau ancaman mutilasi kami anggap itu masih sebatas gurauan saja," kata Yose.

Yose mengakui, kasus penghinaan guru lewat jaringan teman di facebook itu kali pertama terjadi di sekolah mereka. Karena itu, dia berharap ke depan jangan ada lagi murid yang menghina guru baik secara langsung maupun lewat dunia maya.

"Keempat murid yang kami keluarkan itu termasuk selama ini dikenal murid yang baik. Malah salah satu dari mereka masuk dalam kategori murid yang berprestasi," kata Yose.
(cha/irw)


Sekali lagi, berita di atas menunjukkah pada kita betapa mudahnya kita untuk menyalahkan orang lain. Ketika siswa mengemukakan uneg-unegnya melalui sebuah media jejaring sosial, dianggap sebuah hinaan dan berujung kepada "pemecatan".

Facebook lagi-lagi dibawa-bawa atas penyalahgunaan yang dilakukan beberapa orang. Di era demokrasi saat ini tentu saja sudah umum kita dapat menjumpai orang-orang yang secara bebas menyampaikan ide, pendapat maupun kritikan terhadap orang maupun instansi tertentu.

Ketika terjadi sebuah kritikan dalam bentuk uneg-uneg yang disampaikan secara terbuka seperti melalui media jejaring sosial Facebook, tentunya menjadi bahan introspeksi kita bersama. Mengapa seorang siswa lebih menyukai mencurahkan uneg-unegnya ke media jejaring sosial Facebook? tidak disampaikan kepada yang bersangkutan, instansi yang berwenang atau bahkan kepada orang tua sendiri.

Mungkin salah satunya dikarenakan Facebook sebagai sebuah media tidak memberikan "judgement" atau penilaian bahkan tidak menunjukkan ketidaksukaan ketika kita menuliskan sesuatu yang dianggap tidak menyenangkan sehingga banyak orang termasuk siswa-siswa sekolah lebih menyenangi "curhat" atau mencurahkan uneg-unegnya melalui media ini.

Bayangkan ketika seorang siswa yang merasa jengkel kepada gurunya lalu menyampaikannya kepada guru yang lain, kira-kira apa yang akan terjadi? kemungkinan besar seperti yang saya yakini, guru tersebut akan langsung menasehati murid yang bersangkutan bahwa itu tidaklah pantas dan bahkan mungkin akan memarahinya.

Menurut anda, dengan kondisi tersebut di atas, mana yang akan dipilih, apakah Facebook yang akan menerima apa saja apa yang kita "curhatkan" atau kepada guru/orang tua yang akan langsung menasehati anda?

Mudah-mudahan ini menjadi pembelajaran buat kita bersama.

Satu hal lagi, ketika seseorang meengemukakan sesuatu yang tidak menyenangkan mengenai kita, apakah serta merta kita harus menganggapnya sebagai sebuah hinaan dan tidak akan memaafkan hingga orang tersebut menerima ganjarannya. Sekali lagi alangkah baiknya kita melakukan introspeksi terlebih dahulu, kenapa orang tersebut memiliki anggapan negatif mengenai kita? tentu saja tidak ada asap tanpa api dengan kata lain tidak ada sebuah akibat tanpa sebab.

Kamis, 11 Februari 2010

Ada Apa Dengan FACEBOOK?

Hari-hari ini media massa baik televisi maupun koran sibuk memberitakan mengenai bahaya Facebook. Dikatakan bahwa Facebook memberi dampak negatif pada ABG-ABG perempuan. Hal ini berawal dari kasus kaburnya seorang anak ABG perempuan menemui teman laki-laki yang dikenalnya lewat situs jejaring sosial Facebook.

Berita tersebut susul-menyusul dengan berita-berita lainnya yang memaparkan dampak negatif situs jejaring sosial Facebook. Bahkan salah satu stasiun televisi nasional dengan gencarnya mengupas kasus ini, namun yang disayangkan mereka seakan-akan berusaha untuk mengarahkan opini publik bahwa Facebook berbahaya sehingga tidak lagi fokus kepada kasus yang terjadi. Setiap kali menonton pemberitaan oleh stasiun televisi ini mengenai kasus tersebut membuat saya tertawa sendiri karena begitu inginnya presenter menggiring opini publik kepada betapa berbahayanya Facebook.

"Jadi ada apa dengan Facebook???", itulah pertanyaan besar yang terbersit dalam pikiran saya.

Facebook sebagai sebuah media jejaring sosial yang membantu kita untuk dapat membangun networking, mempertemukan kembali dengan teman-teman lama maupun baru, media untuk berkomunikasi dan sharing informasi, bahkan saat ini marak dijadikan media untuk menggalang massa, selain memiliki dampak positif tentu saja tidak terlepas dari dampak negatif.

Kalau kita mau jujur, semua hal di dunia ini memiliki kedua sisi ini ibarat dua sisi mata uang. Lalu kenapa pula kita dengan gencarnya menyalahkan jejaring sosial Facebook yang sifatnya netral tergantung kepada penggunanya untuk digunakan sebagai apa dan untuk apa?

Terlihat sekali ada upaya untuk menggiring opini publik kepada satu sisi (sisi negatif Facebook). Lalu untuk kepentingan apa dan siapa? Apakah untuk menaikkan popularitas sebuah pemberitaan yang akhirnya sangat terkait kepada rating sebuah stasiun televisi dan dana yang mengalir atau ada maksud-maksud lainnya seperti upaya untuk mengalihkan perhatian publik kepada kasus-kasus nasional yang akhir-akhir ini menjadi perhatian masyarakat Indonesia, sebut saja kasus skandal Bank Century.

Sebuah pemberitaan seharusnya bersifat netral (tidak berpihak) atau tidak mengarahkan kepada suatu penilaian tertentu terhadap suatu topik permasalahan. Demikian juga dengan kasus-kasus diatas. Apakah pantas kita menyalahkan dan mendiskreditkan situs jejaring sosial Facebook?? Kenapa masing-masing individu yang terkait dengan kasus tersebut tidak melakukan introspeksi. Setiap perbuatan tentu ada sebabnya. Apakah seorang anak gadis yang notabene masih ABG akan kabur begitu saja tanpa sebab? Kabur artinya dilakukan dengan sadar, berbeda halnya dengan penculikan.

Memang sangat mudah untuk menyalahkan sesuatu di luar diri kita atas apa yang terjadi. Orang tua seringkali merasa benar, telah mendidik anak dengan baik, memberikan apa pun kebutuhan anak dan ketika terjadi sesuatu pada anak-anaknya melimpahkan kesalahan kepada pihak lain.

Perlu diperhatikan bahwa apa yang dirasakan anak belum tentu sama dengan apa yang dimaksudkan oleh orang tua. Orang tua terkadang telah memberikan segalanya kepada anak, namun anak terkadang merasa tidak mendapatkan apa yang diinginkannya dari orang tua. Orang tua sering merasa kalau anak-anaknya adalah anak yang baik, pendiam dan penurut namun tidak sedikit yang berakhir dengan melakukan tindakan kriminal.

Karena itu janganlah kita terburu-buru menyalahkan pihak lain atas kejadian tertentu. Lakukan komunikasi dengan anak, jangan-jangan kitalah penyebabnya!!!

Jangan-jangan demikian pulalah dengan Facebook yang dijadikan kambing hitam atas ketidakmampuan kita.

Senin, 25 Januari 2010

The 3rd International Youth Gathering

Pada tanggal 18-24 Januari 2010 di Bandung-Indonesia telah diselenggarakan sebuah momen bersejarah bagi pemuda dalam kancah dunia internasional, yaitu The 3rd International Youth Gathering. Akhir dari gathering tersebut dihasilkan sebuah deklarasi "The Youth Contribution for Peace and Better World". Deklarasi ini rencananya akan diberikan oleh perwakilan pemuda dari 22 negara kepada pemerintah masing-masing.

Berikut ini isi deklarasi The 3rd International Youth Gathering yang terdiri atas 9 poin :

Pertama, deklarasi menyatakan bahwa Muslim sebagai satu bangsa.

Kedua, hak mendapatkan keadilan dan pendidikan tanpa adanya diskriminasi berdasarkan etnik, ras, gender, dan bahasa.

Ketiga, menekankan perlunya kerja sama dan koordinasi di antara negara Muslim.

Keempat, mengembangkan sistem pendidikan yang baru, termasuk model alternatif yang didasarkan pada prinsip-prinsip Islam yang merupakan jawaban terbaik terhadap krisis ontologi, epistimologi, dan metodologi yang terkait dengan modernitas dan westernisasi.

Kelima, mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam pendidikan, penelitian, dan teknologi bagi terwujudnya kualitas pendidikan terbaik melalui program pertukaran pelajar, beasiswa, simposium internasional, dan olimpiade sains internasional permuda Muslim.

Keenam, menekankan pentingnya pemerintah di negara-negara Islam mengembangkan serangkaian kebijakan baru untuk meningkatkan peran dari organisasi-organisasi pemuda.

Ketujuh, desakan untuk menghentikan invasi terhadap Palestina, Irak, Afganistan, dan Nogarno Karabagh. Pun, untuk mencari solusi untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di Yaman, Darfur, Kashmir, Moro, Somalia, Pattani, dan Chechnya.

Kedelapan, menghentikan diskriminasi dan Islamofobia serta kebijakan politik dan cara-cara yang tak berpihak pada komunitas Islam di dunia Barat. Juga mendesak pemerintah negara Barat mengambil langkah berarti untuk menghentikan situasi ini.

Kesembilan, menjadikan perempuan sebagai sekolah awal bagi umat, advokasi untuk menjamin hak-hak perempuan, dan propaganda media bagi peran perempuan di dalam keluarga memiliki entitas paling kecil dalam peradaban. Selain itu, membangun jaringan kerja lembaga swadaya masyarakat perempuan demi terwujudnya pendidikan lebih baik bagi perempuan, pelatihan kewirausahaan untuk memenuhi kebutuhan perempaun, dan menopang kehidupan keluarga. Serta, beasiswa bagi perempuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan keluarga.


Demikian isi dari 9 poin deklarasi The 3rd International Youth Gathering, semoga dapat menjadi rekomendasi dan perhatian bagi pemerintahan Islam atau yang masyarakatnya mayoritas Islam seperti Indonesia. Islam adalah agama yang jaya namun tidak menjamin kejayaan umatnya, karena kejayaan suatu kaum tergantung kepada usaha kaum itu sendiri untuk menjadikannya jaya.

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS Ar Ra'd:11)"

Isi Deklarasi "The Youth Contribution for Peace and Better World" bersumber dari HU Republika tgl. 25 Januari 2010

Jumat, 15 Januari 2010

Demi Masa : Manajemen Waktu

Demi Masa. Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal sholeh dan saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
(Q.S. Al-Ashr : 1-3)

“Duh ga punya waktu nih”, “Lagi sibuk banget nih, sampe lupa makan”, dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan yang seringkali kita dengar bahkan kita ucapkan sendiri berkaitan dengan waktu yang kita miliki. Padahal tiap orang memiliki jumlah waktu yang sama yaitu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Lalu apa sebabnya ada yang sepertinya dapat mengerjakan semua hal dan ada yang untuk mengerjakan satu pekerjaan saja sepertinya punya waktu 24 jam tidaklah cukup.

Demikian berharganya waktu sehingga seringkali kita harus memilih antara mengerjakan pekerjaan tertentu dan meninggalkan lainnya. Tapi memang itulah kehidupan, penuh dengan pilihan dan konsekuensi. Namun seringkali yang terjadi adalah kita tidak bisa menentukan pilihan, pekerjaan mana sebagai prioritas sehingga akhirnya tidak ada satu pun terselesaikan secara optimal.


Waktu memiliki karakteristik seperti halnya pedang bermata dua.
Ketika salah memanfaatkannya maka akan mencelakakan diri sendiri. Tentu saja tidak ada satu orang pun menginginkan semua waktunya habis hanya untuk mengerjakan satu pekerjaan saja, sedangkan banyak hal menyenangkan lainnya terabaikan. Untuk itu kita perlu menentukan skala prioritas dan memanage waktu sebaik mungkin sehingga kita tidak menjadi orang yang merugi atau celaka karena tidak bisa melakukan sesuatu atau menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Kita terjebak dalam lingkaran waktu dan dikendalikan oleh waktu, padahal seyogyanya manusialah yang memanage waktu tersebut karena kita adalah khalifah di muka bumi ini.


Yang perlu diperhatikan dalam memanage waktu adalah bahwa kita hidup tidak hanya untuk bekerja atau bermain atau shalat terus menerus. Tubuh kita punya hak dari waktu kita, begitu juga lingkungan seperti keluarga dan teman-teman, dan tentu saja ruh kita juga punya hak sehingga aspek spiritual tidaklah ditinggalkan. Bahkan seharusnya menjadi prioritas, seperti firman Allah :

”Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

(Q.S. Al-Jumu’ah : 10)

Dari firman Allah di atas jelas bahwa aspek pertama yang harus diutamakan adalah spiritualitas kita yaitu mengisi bateri Ruh kita agar tahan banting ketika berhadapan dengan godaan dunia. Setelah itu kita diharuskan untuk mencari nafkah dan mengumpulkan rejeki Allah di muka bumi ini. Namun tentu saja dengan selalu disertai dzikir kepada Allah agar kita tidak terjerumus dalam kesesatan syaitan sehingga melakukan perbuatan-perbuatan tidak terpuji.


Dengan demikian diharapkan kita tidak menjadi orang-orang yang merugi, karena masa atau waktu yang diamanatkan Allah kepada kita dapat dimanfaatkan sebaik mungkin dengan selalu meningkatkan keimanan, beramal sholeh, dan saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.


Dalam memanage waktu ingatlah bahwa kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri namun mengemban amanah Allah sebagai khalifah-Nya dan memiliki kewajiban terhadap lingkungan kita, baik keluarga terdekat, masyarakat sekitar dan umat manusia secara umumnya. Bagilah waktu kita untuk Allah, diri sendiri, pekerjaan, keluarga, masyarakat, dan umat manusia.


Apa yang akan kita lakukan dalam rangka beribadah kepada Allah? Akan berapa lama?

Pekejaan apa yang akan kita lakukan hari ini? Berapa lama?

Apa yang akan kita lakukan bersama keluarga? Kapan dan berapa lama?

Apa yang akan kita lakukan untuk masyarakat sekitar lingkungan kita? Berapa lama?

Apa yang akan kita lakukan untuk kemaslahatan umat manusia secara umum? Berapa lama?

Dan terakhir apa yang akan kita lakukan untuk diri kita sendiri? Berapa lama?

Cobalah buat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas dan laksanakan. Perlu diingat bahwa apa yang kita rencanakan terkadang tidak berlangsung sesuai rencana karena itu berusahalah semaksimal mungkin dan bertawakal kepada Allah.


Rumusan di atas bukanlah sudah terbukti secara obyektif namun hasil pemikiran saya, dan semoga dapat bermanfaat bagi kita dalam melakukan manajemen waktu terutama untuk saya sendiri.